Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Bukan milikku

Layaknya rindu yang lalu Harus berhenti tanpamu Menanggalkan senyummu Dibalik luka yang semu Ku ulangi kembali Jiwa itu tak ku miliki Dan mungkin tak kan ku miliki Atau mungkin harus mati

Sabda Jiwa

Sabda-sabda harum dalam debur Mengharu tanpa bayang kabur Aku masih berlayar dengan nyiur Melambai penuh senyum menghambur Entah dimana titik akan cahya Terbenam atau menyapa Sekejap hilang atau musnah tiada tara Sang Pemilik Jiwa lebih paham akan segala

Garam

Tak usah bertanya Mengapa bisu membungkam Kau akan tau luka terlempar garam Perih dalam diam... Salah berlayang??? Sudah lah sakit Hanyalah bumbu Sayang

Aku Ingin Mencintaimu

Aku ingin mencintaimu Berdiri dari sakit yang pernah lalu Bukan pelarian atau harap palsu Aku ingin sandarkan kepala satuku Kala angin semilir atau badai datang menyapu.... Aku ingin mencintaimu Bangkit dari keterpurukan hati yang lalu Kau akan tau siapa diriku Lebih dalam akan batinku Aku ingin mencintaimu Selalu tersenyum dalam bahagia denganmu Meski duka lara datang mencumbu Kau selalu ada memeluk erat tubuhku Aku ingin mencintaimu Meski ku tau Kau mungkin tak kan pernah menjemputku Kau sebatas bumbu penyedap pada jalanku Dalam tanah rantau Sesaat yang kan segera berlalu Aku ingin mencintaimu Membuka mataku Kasih anak adam bukan harap palsu Aku ingin mencintaimu Meski ku tau Siapa diriku Si kerdil, penuh mimpi selalu

Siapalah aku?

Luka ... Basah... Derita... Bukan demikian kau hantar Pada setiap masa yang telah bergetar Kau bukanlah dia Ataupun mereka Kau bukan pendengar duka pelipur lara Yang pergi dengan hangat kasihnya Kau bukan rainkarnasi Dari dia yang pergi meninggalkan cinta demi Dia yang lebih cinta Kau bukan pengamat dalam diam yang penuh akan angan bermasa Kau bukan mereka, bukan!!! Meski kau miliki Jiwa layaknya dia Pikir layaknya dia Hati layaknya dia Yakinku, kau bukan mereka... Meski matamu serupa Meski senyummu serupa Meski pikirmu serupa Meski sentuhmu serupa Kau tak kan serupa... Bagaimana langkah berjalan Pada liku yang nyata Siapa kamu? Mendekat dengan hangat Merayu dengan mesra Menghayal dengan bebas Merahkan yang hampir menghitam Sempat melayang diatas awan Berhayal...tersenyum dalam sendirian Namun bayang jatuh terasa memilukan Siapa aku? Kerdil tak berarti Kecil tak berisi Kasih tak berani Bintang menyendiri Berpasang bulan pada malam kian sunyi Tak p...