Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

rindu-rindu

siapakah yang akan bertanggung jawab? atas rindu-rindu... para rindu kian menggebu para rindu masih bisu para rindu terpenggal waktu para rindu tenggelam SuratanMu

aku cemburu

aku cemburu pada fajar dan binar malaikat mengintip pun menjulang akan sorot keikhlasan aku cemburu pada senja dan mega merah melengkapi dalam keindahan pun sprektum menyebar alunkan nyanyian surga aku cemburu pada malaikat subuh yang bersiap membangkitkanmu iya, aku cemburu dan maafkan atas kecemburuan itu maaf atas kecemburuan itu maaf akan kecemburuan ku

biarkanku sejenak berandai

kali ini biarkan aku berandai dalam malam 12 Ramadhan ini temani ku berandai tentang dia,... tentang dia dalam malam panjang... tentang dia, aku, dan dia... dengarlah detak bernada kalimat kian berbisik penuh bisikan akankah berkata dari hati kian palsu? akankah ungkap demi ungkap masih ambigu? akankah selalu hadirmu membuat rindu berkecambuk? akankah rindu selalu berujung pada luka bisu? kemarilah, dengarlah, bisik rindu harapku kian terpupuk bersama waktu dan selalu terpupus dengan bisumu kian retak sebab kamu... tak rasa, sebab tak berasa rindu sebatas melawan logika izinkan aku bertanya, kapan kau kan datang dengan emas permata? @ za_12Ramadhan

Esok Ramadhan

tepat sebelum jarum jam menusuk ganjil ke dua rintik kian bernada beraromakan debu rindukan hujan seperti hawa-hawa rindu pada bulanNya inilah semilir kehangatan dibalik rindu yang mendalam dalam dan dalam aahhh... esok ramadhan emak... sebagaimana kau ingatkan kami esok ramadhan sambut dia peluk dia dan cium dia dan ramadhan disambut dengan rintik hujan emak hujan yang kemarin enggan menyapa kini ia datang mengantar sang Ramadhan seiring rintiknya seiring pula detaknya begitu pula harapan doa-doanya marhaban ya ramadhan... 26/05/2017. 14.31

maaf...

maaf, jika tanpa sengaja pikir itu melayang maaf, sejenak bayangmu menerkam maaf, jika ia hampir terpaut impian dan maaf, jika harap meski musnah, sayang.

tanpamu

purnama kembali tak demikian dengan nyawamu kenangan itu kembali tak demikian dengan dirimu jemari ku kian beku aksara ku membisu tiada santun sang rindu menggebu dan terus menggebu layaknya malam yang berlalu aku tanpamu masih tanpamu dan terus tanpamu entahlah, hingga kapan kan tanpamu

Yang menyayangimu

Orang yang menyayangimu tak akan pernah menyakitimu, Menyakiti imanmu Menyakiti hatimu Menyakiti jiwamu Menyakiti fisikmu Pun tak kan menyakiti mimpimu Dia akan selalu ada untukmu menyatu dengan insting ilahi Muncul menyejukkan hati Menasehati dengan lirih luruskan hati yang kembang kempis Menyentuh tenangkan diri Dengan doa-doa ingatkan pada Rabbi Lalui jarak yang tak terbatasi Dengan waktu yang terbatasi Dan orang yang menyayangimu takkan menyakitimu... dia akan tenangkanmu dengan ilmu dan hatinya Munculkan mawaddah dalam tutur laku pikirmu Sampai rahmah yang tiada dua diantaramu Kecuali barakah yang kian waktu kian bervolume, penuh, penuh, penuh, penuh, dan penuh Hingga Tangan Penguasa Kehidupan yang kan memutus urat nadi keduanya Dan mendudukkanmu disinggasana keabadianNya... Dan orang yang menyayangimu takkan pernah menyakitimu, Dengan cara santun dan bijaksananya tenangkan mu lewati malam-malam hingga mata tak melihat terangnya surya.

Fajar....

Mencarimu dalam dia Entah mengapa Lenyap begitu saja Ahhhh engkau yang mungkin telah mencium harum surga Taukah kau? Bagaimana rasa yang menghampa Pada esok, Kala fajar menyapa Semoga semanis canda tawa bersama anda.

U

Aku ingin menulis akan kamu Rindu Dan candu Yang berlalu Dan kian layu

Ibu...

Ibu, Kenapa aku tumbuh tanpamu Kenapa Dia memanggilmu lebih dulu Kenapa engkau pergi dariku Kenapa aku berjalan tanpamu Makhluk ini tumbuh bu... Tumbuh.... Tumbuh... Tumbuh... Namun kau pasti tau Makhluk ini mengkerdil Mengecil Terhimpit Tertekan Terbengkalai Ibu, Aku ingin... Memanggilmu Memelukmu Mengecupmu Aku rindu, Belai belai kasih mu Belai belai nasehatmu Belai belai santunmu Pun belai belai doamu Ibu, Kau selalu lebih tau akan aku Memahami emosiku Mengerti gerikku Mendengar slentingan hatiku Merasakan lelah yang menggebu Ibu, Aku ingin menulis akan mu Akan aku Akan rindu Akan syahdu Dan juga candu Ibu, Maafkan aku... Gadis kecilmu yang sedang tumbuh Menatap masa depannya Menata hidupnya Mencari jalannya TUHAN... peluklah ibuku Hapuskan dosanya karena ku Indahkan istananya Nyamankan dia Engkau, Yang Maha Memahami Segala .

Azan Subuh

Sebagaimana fajar pancarkan sinarnya Suaramu berbisik disetiap telinga Sampaikan salam penuh makna Sehangat teh hijau bercampur susu yang kita suka Aaahhhh Azan subuhmu masih terdengar kang...

Ajariku...

Ajariku, maafkanmu. lepaskanmu. tinggalkanmu. hapuskanmu. lupakanmu.

Han,

Angin sedang berbisik dengan merdunya Kabarkan ia yang tengah berbunga Lewati malam dengan riangnya Berceloteh penuh rasa mesra Selamat ... Aku mengintipmu dibalik suara bungkam Menelisik setiap kedipan Berbisik haru akan perjuangan Tuhan yang tahu Jalan Dan biar terhanyutkan bayangmu selanjutnya Seperti kau bakar-putuskan memoriam Benar-benar, hitam kan memudar

LALU?

Buat apa kau mengukir pahatan Hanya untuk membayangkan Biar saja jalan ini terjal Kau pun tak kan hadir Meski sekedar menatap mataku Mata y ang hampir tenggelam.